• Alyandra Gusman

Seri Lokakarya Pengembangan Kampung Berkelanjutan: Perubahan Iklim dan Pembangunan

Seri Lokakarya: Pengembangan Kampung Berkelanjutan ini dilaksanakan oleh kerjasama Muliantara dengan WWF – Indonesia untuk mitra WWF – Indonesia dalam program Leading the Change, mitra WWF – Indonesia dan staf WWF – Indonesia dari berbagai daerah. Lokakarya ini diikuti oleh peserta dari Aceh, Riau, Jambi, Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Papua Barat.


Lokakarya dilaksanakan pada bulan September hingga Oktober 2020 selama empat minggu dengan delapan kali pertemuan secara daring dan interaktif memanfaatkan berbagai aplikasi seperti Zoom, Google Sheet, Jamboard, Mural, dan Mindmanager. Lokakarya ini terbagi dalam tiga sesi: 1. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, 2. Perubahan Iklim dan Pembangunan, dan 3. Pengembangan Kampung Berkelanjutan.


Lokakarya ini bertujuan implementasi pengembangan Kampung Berkelanjutan dengan mempelajari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), Perubahan Iklim dan Pembangunan, Pemberdayaan Masyarakat, Pengkajian Penghidupan Berkelanjutan, Pengumpulan Data, Identifikasi dan Analisis Masalah, Perancangan Kampung Berkelanjutan, Monitoring, Evaluasi, dan Learning (MEL), berbagi pengalaman peserta mengenai pengembangan Kampung Berkelanjutan di wilayah masing-masing dan uji coba modul Pengembangan Kampung Berkelanjutan.


2. Seri Lokakarya: Pengembangan Kampung Berkelanjutan – Perubahan Iklim dan Pembangunan


Pertemuan kedua Seri Lokakarya: Pengembangan Berkelanjutan ini mengusung tema perubahan iklim dan pembangunan yang dilaksanakan pada hari Jumat, 18 September 2020 secara daring. Secara garis besar materi ini bercerita mengenai Pemanasan Global, Dampak yang Dihasilkan oleh Pemanasan Global di Dunia, Kenapa Krisis Iklim Terjadi, dan Usaha Apa yang Dapat Menyelesaikan Permasalahan Iklim. Pertemuan yang berlangsung selama empat jam dilakukan dengan berbagai metode menarik yang mengajak peserta untuk aktif berpartisipasi.


Pertemuan ini dibuka dengan permainan singkat menebak jumlah hewan pada gambar, darisana peserta diminta melihat gambar dan berlomba menebak jumlah hewan yang terlihat dalam waktu dua menit. Permainan di awal membuat semangat dan atensi peserta menjadi tinggi untuk mengikuti lokakarya.


Krisis Iklim


Presentasi materi krisis iklim menggunakan media film, gambar, dan fakta mengenai krisis iklim. Bersama-sama, seluruh peserta belajar mengenai pemanasan global dan dampak yang dihasilkan menjadi krisis iklim bagi manusia dan bumi.

Tingginya jumlah gas rumah kaca yang dibuang ke atmosfer menyebabkan kenaikan suhu di atmosfer dan di permukaan air laut. Hal tersebut, memicu perubahan siklus hidrologi bumi sehingga banyak terjadi kasus cuaca ekstrim di berbagai belahan dunia. Suhu panas ekstrim terjadi di berbagai tempat. Pemanasan permukaan air laut juga menghasilkan uap air yang melimpah dan menyebabkan hujan serta cuaca ekstrim yang dapat mengakibatkan banjir di satu tempat dan kekeringan di tempat lainnya. Cuaca ekstrim ini juga mendorong banyak jenis hewan kedalam jurang kepunahan yang berdampak pada nilai keanekaragaman hayati dunia menurun.


Manusia juga tidak terhindarkan dari dampak pemanasan global. Kenaikan suhu dan cuaca ekstrim mempengaruhi ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, serta kesehatan global bagi seluruh manusia yang tinggal di bumi. Pangan menjadi semakin sulit untuk diproduksi menyebabkan banyak kelaparan dan kemiskinan di berbagai negara, air bersih yang semakin sedikit menyebabkan kesejahteraan berbagai masyarakat terancam, dan semakin banyaknya penyakit mewabah di berbagai tempat dapat mengancam kesehatan global manusia.

Dunia sudah bergerak untuk mengentaskan isu krisis iklim dan pemanasan global dengan berbagai upaya.


Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) menjadi salah satu upaya kolektif negara-negara di dunia untuk bergerak menuju masa depan yang berkelanjutan. Mulai dari beralihnya penggunaan energi fosil ke energi baru terbarukan, perubahan gaya hidup masyarakat, beralihnya pola makan yang berkelanjutan, dapat menyelamatkan manusia dari krisis iklim ini. Tentunya seluruh masyarakat juga dapat secara kolektif berkontribusi menyelamatkan bumi dengan memulainya di lingkungan masing-masing.


Peserta lokakarya berdiskusi dan merumuskan mindmap terkait krisis iklim dan kampung berkelanjutan. Dengan menggunakan isu perubahan iklim yang terlihat di sekitar tempat tinggal, peserta telah dapat mengidentifikasi sejarah terjadinya, penyebab timbulnya, dampak lanjutan, adaptasi, mitigasi dan ancaman keberlanjutan bagi komunitasnya. Hasil ini menjadi salah satu alasan dasar bagi peserta untuk membangun kampung berkelanjutan di daerahnya. Isu perubahan iklim, harus masuk kedalam rencana pengembangan kampung berkelanjutan, yang meliputi upaya mengatasi perubahan iklim dengan adaptasi dan mitigasi, dan ketahanan pangan ditekankan. Yang dirasakan dari perubahan iklim menurut beberapa peserta antara lain:

  • Chilvester (Masyarakat Kampung Menarbu, Papua Barat) merasakan permukaan air laut meningkat.

  • Melania (Masyarakat Kampung Aisandami, Papua Barat) merasakan cuaca yang tidak menentu, dan peningkatan suhu.

  • Dodi (CSBB, Kaltim) merasakan kemarau hilang, hujan terus, musim sulit ditebak, sehingga bingung menentukan kapan musim tanam sawah ladang.

  • Yusli (FBP, Kalbar) merasakan peningkatan suhu, banjir lebih sering, hama sawah, dan musim sulit diprediksi.


Contoh mindmap yang dibuat oleh peserta lokakarya terkait perubahan iklim di daerah tempat tinggalnya

Telp: +62 821 3053 5605

Email: muliantara@muliantara.or.id

Web : www.muliantara.or.id

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon

©2019 oleh Yayasan Pemulih Nusantara.